Paradigma!

Oleh: Genta Suchinda Evanuar

“People are sheep. TV is the shepherd.”
Jess C. Scott, Literary Heroin (Gluttony): A Twilight Parody

 

 

Paradigma

Paradigma, secara sederhana difahami sebagai suatu cara pandang tertentu yang digunakan oleh seseorang untuk melakukan penilaian atau justifikasi terhadap satu atau lebih hal. Paradigma, tentu berbanding lurus dengan tata nilai yang diyakini oleh seseorang, di mana tata nilai tersebut menjadi parameter dalam menilai baik-buruk, benar-salah, atau pahlawan-penjahat. Saya, yang beragama Islam, pasti memiliki perbedaan paradigmatic dengan mereka yang berbeda agama atau berbeda ideology dengan saya. Dalam memandang sebuah fakta, misalnya Negara, seorang anarkis akan menganggap setiap Negara adalah musuh, karena dalam tata nilai anarkisme, Negara dianggap sebagai sebuah entitas yang dibuat oleh sekelompok kecil manusia (pemerintah) untuk menindas kelompok lain (masyarakat). Kemudian seorang sekuleris akan memandang baik sebuah Negara yang memisahkan urusan public dengan agama, karena dalam tata nilai mereka agama dianggap cenderung disalahgunakan penguasa untuk melanggengkan tirani mereka. Sedangkan seorang Islamis, akan memandang Negara haruslah berdiri di atas dasar Islam dan menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah serta apa-apa yang ditunjuk oleh keduanya sebagai sumber rujukan dalam membuat regulasi (biasa disebut sebagai konstitusi), karena agama Islam memang tidak hanya mengatur tentang hal-hal yang sifatnya individual tapi juga perkara yang sifatnya kompleks dan kolektif seperti urusan ekonomi-politik. Divan Semesta, dalam sebuah tulisannya di Openmind Minimagz beberapa tahun lalu membuat analogi yang sangat keren tentang domain agama Islam yang kira-kira intinya begini: apabila agama-agama itu diibaratkkan sebuah lingkaran, maka Islam adalah sebuah lingkaran penuh yang apabila dibelah menjadi dua akan terlihat dua aspek di dalamnya: spiritual (individual) dan aspek politik (public). Perbedaan pandangan terhadap satu perkara yang sama ini menunjukkan bahwa setiap entitas, baik itu manusia ataupun lembaga swasta, Negara, termasuk media massa mempunyai cara pandang tertentu dalam memandang setiap perkara. Itulah yang disebut dengan paradigma atau worldview.

 

Media Massa dan Kapitalisasi Berita

Beberapa hari yang lalu, saya sempat mengobrol dengan salah seorang mahasiswa di kampus saya, dan salah satu topic obrolan kami adalah Media Massa Mainstream. Dari obrolan tersebut, saya dapat menangkap ekspresi kejengahan dari mahasiswa tersebut terhadap tingkah polah media massa mainstream saat ini. Saya pikir kejengahan ini merupakan fenomena yang wajar (karena saya juga merasakan kejengahan yang sama 😀 ), terutama pasca-pemilu Presiden beberapa waktu yang lalu, di mana media-media mainstream bahkan juga media komunitas dan independen seolah terpolarisasi ke dalam dua kubu: Kubu Prabowo-Hatta dan Kubu Jokowi-Kalla. Media-media yang telah terpolarisasi tersebut kemudian menyajikan gambaran yang timpang terhadap kubu lawannya, dan melakukan penggiringan opini. Propaganda! Alasan media-media mainstream dalam memilih kubu mana yang akan dikampanyekan pun terlihat absurd: Komando pemilik modal. Meskipun berkali-kali pihak mereka mengungkapan alasan-alasan idealis dari keberpihakannya, tapi siapapun tahu, bahwa Metro TV mengkampanyekan Jokowi setelah NasDem, Partai bentukan Sury Paloh, Boss Media Group (Grup media yang menaungi Metro TV) “sign in” ke dalam koalisi yang mengusung Jokowi-JK. Begitu pula TV One, yang membela Prabowo setelah pemiliknya, Abu Rizal Bakrie, masuk ke koalisi Merah Putih yang mendukung Prabowo-Hatta setelah sebelumnya gagal mencalonkan diri.

Maka dari itu, adalah wajar apabila ada sebagian masyarakat yang menjadi jengah kepada media massa mainstream yang saat ini lebih sering berpropaganda daripada menyajikan fakta yang berimbang kepada pemirsanya. Semakin lama, media massa mainstream semakin menunjukkan ketimpangan demi ketimpangan yang didasari oleh kepentingan pragmatis (baca: uang/capital). Media massa yang menjadikan kapitalisme dan sekulerisme sebagai tata nilai yang mereka anut atau tidak menjadikan norma agama sebagai paradigma yang menjadi self control mereka, tentu akan sangat mudah tejebak ke dalam pragmatism semacam ini. Jual beli berita (konsinyasi), propaganda, stigmatisasi terhadap kelompok tertentu (belakangan ini pasti teman-teman sangat familiar dengan sebuah kelompok jihad yang secara tidak update disebut dengan ISIS, kan?), dan lain sebagainya akan mudah menjangkiti media kapitalis/sekuler karena mereka tidak mempunyai self-control yang benar dan mengikat.

Solusinya, Paradigma Islam!

Ada tiga pertanyaan mendasar tentang manusia, kehidupan dan alam semesta yang seharusnya mampu dijawab oleh seorang manusia, agar ia dapat menjalani hidup dengan arah dan tujuan yang jelas. Pertama, “Dari manakah manusia, alam semesta dan kehidupan ini berasal?” Paradigma Kapitalis/sekuler yang masih memercayai eksistensi Tuhan, tentu menganggap semua itu berasal dan diciptakan oleh Tuhan. Kedua, “Untuk apa manusia hidup di dunia?” Paradigma kapitalis/sekuler yang materialistis menganggap kehidupan ini adalah untuk mencari kepuasan material-jasmaniah sebanyak-banyaknya. Pertanyaan ketiga “Kemana manusia akan kembali setelah mati?” Paradigma kapitalis/sekuler yang masih memercayai Tuhan, tentu akan menjawab manusia akan kembali kepada Tuhannya.

Coba perhatikan. Dari ketiga jawaban paradigma kapitalis/sekuler atas tiga pertanyaan dasar tersebut, ada sebuah kerancuan. Apa itu? Kalau memang paradigm kapitalisme/sekuler percaya akan eksistensi Tuhan, maka seharusnya dalam kehidupan pun mereka menjadikan aturan Tuhannya sebagai pedoman. Tapi pada kenyataannya, dalam kehidupan umum, aturan Tuhan dicampakkan. Bahkan salah seorang Jurnalis pernah mengatakan, dalam menulis berita, seorang jurnalis harus menanggalkan agamanya, demi obyektifitas. Itulah rancunya paradigma kapitalis/sekuler yang tentu saja ketika dijadikan pedoman akan menghasilkan kerancuan-kerancuan yang lain, sebagaimana yang dikatakan Syaikh al-Albani –Rahimahullah-, “sesuatu yang dibangun di atas dasar yang rusak, pastilah akan menghasilkan bangunan yang rusak pula”. Oleh sebab itu wajar saja, apabila media massa kapitalis rela menggadaikan idealism demi mendapatkan keuntungan material. Sekali lagi, mereka tidak punya konrol diri yang cukup kuat untuk tetap mempertahankan idealism dan netralitasnya.

Solusinya adalah paradigma Islam, yang harus digunakan oleh semua orang –terutama Muslim- dalam memandang semua permasalahan, termasuk urusan media. Ketika sebuah media menjadikan Islam sebagai landasan paradigmatisnya, maka ia akan memaparkan berita sesuai dengan tuntunan syari’at Islam yang benar. Selain itu, berita dengan “cover both sides” akan menjadi suatu kode etik yang secara konsisten akan terus dilakukan oleh media massa, mengingat agama Islam mensyari’atkan tabayyun dan adil, baik kepada sesama Muslim maupun kepada non-Muslim. Setiap entitas yang berparadigmakan Islam, dalam menjawab tiga pertanyaan dasar tentang manusia, kehidupan dan alam semesta akan memberi jawaban yang sinkron antara satu dengan yang lainnya, tidak rancu sebagaimana jawaban dari kapitalis-sekuler. Seorang Muslim yang lurus aqidahnya, akan meyakini bahwa segala sesuatu berasal dari Allaah dan akan kembali kepada Allaah, maka dalam kehidupan ini pun seorang hamba (manusia) haruslah hidup dengan aturan yang disyari’atkan Allah dalam setiap aspek kehidupan, baik yang bersifat ritual, individual, maupun yang bersifat kemasyarakatan seperti mengelola Negara. Dengan sikap seperti ini, seseorang akan merasa terikat dengan syari’at di setiap aspek kehidupannya, memperhatikan kaidah-kaidah syara’ dalam setiap tindak-tanduknya, sehingga ia akan berhati-hati dalam melakukan segala sesuatu agar sebisa mungkin tidak bertabrakan dengan apa-apa yang dilarang oleh Allah. Paradigma Islam ini juga sangat penting untuk dimiliki oleh masyarakat umum yang menjadi objek propaganda media sekuler, terutama di masa-masa sekarang di mana Islam dan orang-orang yang memperjuangkannya selalu dipojokkan. Bahwa Islam melarang setiap Muslim untuk langsung mempercayai berita dari orang-orang fasiq, yaitu orang-orang yang tidak beriman secara benar kepada Allaah, dalam hal ini media-media sekuler. Maka penting bagi kita semua untuk melakukan tabayyun itu tadi, agar kita dapat berpersepsi secara adil dan tidak termakan oleh propaganda dari kaum sekuler. Oleh karena itu, jadilah pemirsa yang cerdas, jangan mudah terbawa arus opini tanpa pernah melihat masalah dari berbagai sisi, agar kita semua terhindar dari pembodohan massal, dari pencucian otak yang dilakukan secara sistematis dan massiv melalui corong propaganda yang bernama media massa. Tetap melawan!

 

Persetan Dengan Stigma!

Mereka melabeli kita

Fundamentalis! Radikal! Ekstrimis! Puritan!

Kita BerIslam, mereka menghujat

Kita berjuang, mereka menghina

Tapi ingatlah ini, wahai kawan…

Kita hidup untuk sebuah misi

Kita hidup untuk sebuah tujuan

Kita tidak butuh pujian mereka…

Kita tidak takut cacian mereka!

Kita tahu kita benar, maka kita terus berjalan.

Mereka tidak tahu apa yang mereka katakan dan perbuat, maka mereka meracau sekenanya…

Islam tetap benar, meskipun seluruh manusia membencinya

Islam tetap paripurna, sekeras apapun mereka berusaha membuat limitasi atasnya

Suatu hari nanti akan datang suatu masa, di mana kriminalisasi akan berfungsi dengan normal

Tidak seperti sekarang, di mana Kriminalisasi menjadi objek monopoli media korporasi

Islam pasti menang, meski mereka tak suka!
Islam pasti menang, meski mereka mendurja!
Islam pasti menang, dan kapitalisme tinggal cerita!

Post-Islamisme dan Disorientasi Gerakan Islam

Pendahuluan

Wacana Post-Islamisme muncul sebagai reaksi atas peristiwa-peristiwa buruk yang dialami gerakan-gerakan Islam yang berusaha melakukan perubahan melalui system. Menangnya FIS di Al Jazair, HAMAS di Palestina, dan berkuasanya Partai Reffah di Turki, tetap saja tidak mampu mewujudkan tujuan mereka yani menegakkan daulah Islamiyyah. Partai FIS mengalami kudeta sesaat setelah berhasil memenangkan pemilu secara mutlak oleh militer Al Jazair, dan dinyatakan sebagai partai terlarang. Partai Reffah juga mengalami hal yang sama, dikudeta oleh militer Turki yang masih setia pada Kemalisme setelah berkuasa selama 10 bulan. Begitupun halnya HAMAS, menang pemilu di Palestina hanya membuat mereka diboikot dan dikriminalisasi oleh otoritas internasional.

Berdasarkan fakta tersebut, gerakan-gerakan Islam yang berusaha melakukan Islamisasi politik melalui parlemen akhirnya “merubah haluan”, dan berusaha terbuka terhadap ide-ide barat seperti demokrasi dan sekularisme yang selama ini mereka musuhi. Hal ini dilakukan dengan harapan mereka dapat memenangkan pemilu, meraih suara dan dukungan yang banyak, sembari melakukan Islamisasi bertahap di negaranya. Namun besarnya perolehan suara partai- partai tersebut tidak membuat mereka bersegera melakukan gerakan Islamisasi bertahap tersebut dan justru terlarut dalam pragmatisme politik. Dalam essay ini akan saya paparkan argumentasi yang menunjukkan keterkaitan antara wacana post-Islamisme terhadap inkonsistensi dan disorientasi yang dialami gerakan-gerakan Islam.

Post-Islamisme: Manifesto Inkonsistensi

Kajian Post-Islamisme menjadi diskursus yang menarik bagi kalangan orientalis, dan memandang wacana ini sebagai sebuah kemajuan paradigmatis ummat Islam. Gerakan-gerakan Islam yang anti-Demokrasi sudah ber-evolusi menjadi gerakan-gerakan yang kompromistis dan jauh dari kesan ortodoks. Banyak tokoh-tokoh barat yang membuat analisa terhadap wacana ini, di antaranya Henry Lauzierre dengan tulisannya yang berjudul Post-Islamism and The Religious Discourse of Abd-Al Salam Yasin, dan Asef Bayat, seorang Professor dalam bidang kajian Sosiologi Timur Tengah di Universitas Leiden Belanda dalam bukunya yang berjudul Making Islam Democratic: Social Movements and Post-Islamist Turns. Inti dari tulisan-tulisan tersebut adalah bahwa paradigma keliru yang selama ini berkembang di tengah-tengah kaum Muslim yaitu “Apakah Islam cocok dengan demokrasi?” sudah tidak relevan dan mulai berubah. Olivier Roy (1999) pertama kali menulis bahwa ada sebuah tren ‘moderasi’ dalam gerakan-gerakan Islam yang ia sebut sebagai tren Post-Islamisme. Analisis Roy ini ditangkap dengan baik oleh Asef Bayat (2005) yang menemukan kecenderungan munculnya Post-Islamisme ini di dua negara: Iran & Mesir. Dari sini gagasan Post-Islamisme mulai dibahas serius. Post-Islamisme yang ditangkap oleh Bayat di Mesir adalah terjadinya ‘moderasi’ di Ikhwanul Muslimin sebagai strategi mereka untuk menentang Hosni Mubarak. Bayat melihat Post-Islamisme sebagai ‘strategi kontra-hegemoni’ model Gramsci yang diterapkan Ikhwan untuk melawan rezim Mubarak.

Ciri utama gerakan post-Islamisme adalah kecenderungan mereka yang pragmatis, realistis, bersedia untuk kompromi dengan realitas politik yang tak sepenuhnya ideal dan sesuai dengan skema ideologis murni yang mereka yakini dan bayangkan (Ulil Abshar Abdalla, 2011). Karakteristik seperti ini dapat ditemukan pada partai-partai Islam di berbagai negeri Muslim semacam AKP di Turki, An Nahdhah di Tunisia, Partai Keadilan di Mesir, atau PKS di Indonesia. Partai-partai ini merupakan partai yang menunjukkan ciri keIslaman, namun hal tersebut tidak membuat partai-partai ini terlihat ekstrim, karena mereka juga bersikap kooperatif terhadap ide-ide barat seperti demokrasi, HAM, dan partai terbuka, yang selama ini ditentang oleh kelompok-kelompok Islam fundamentalis. Sikap Erdogan pasca menduduki jabatan perdana menteri di Turki yang selalu pro terhadap kebijakan AS dan sekutu-sekutunya merupakan contoh nyata atas paradigma post-Islamisme ini. Ia juga kerap menganjurkan adanya proses sekularisasi dalam pemerintahan-pemerintahan di dunia Islam, karena hal tersebut penting sebagai bentuk penyesuaian diri terhadap perkembangan zaman. Atas sikapnya ini, Turki pun selalu dipermudah oleh AS dalam politik luar negerinya, bahkan AS menekan Uni Eropa untuk segera menerima Turki sebagai anggotanya, yang mana ini merupakan prioritas bagi Erdogan. Hal yang sama juga terjadi di Tunisia, di mana partai An Nahdhah yang berhasil memenangkan pemilu demokratis pertama dalam sejarah Tunisia pasca tumbangnya rezim Ben Ali menyatakan akan menghormati semua kalangan termasuk kaum atheis, padahal sikap-sikap seperti ini tentu merupakan sikap yang harus dipertanyakan mengingat adanya akar Islam di partai- partai tersebut. PKS di Indonesia pun yang pada awalnya bersikap konservatif, lama kelamaan semakin bergerak ke arah moderat. Partai yang semula berbasis kader ini, semakin membuka keanggotaan, dengan merekrut kalangan non Muslim, serta menjalin koalisi dengan Partai-partai dengan basis massa non Muslim. Begitu juga di Mesir, di mana Mursi masih terus menjalin hubungan dengan Israel dan juga berhutang pada IMF.

Fenomena-fenomena di atas tentu harus dilihat sebagai sebuah inkonsistensi, di mana partai yang seharusnya memperjuangkan aspirasi politik ummat Islam dengan terus menjaga kemurnian aqidah sebagai landasan perjuangan justru menjadi partai-partai yang mengorbankan aqidah demi suara dan popularitas. Selain itu, besarnya suara yang mereka peroleh di pemilu tidak kunjung membuat mereka bersegera untuk melakukan “Islamisasi Bertahap” yang telah mereka agendakan sendiri. Di sisi lain mereka justru melakukan pembelaan terhadap barat dan ide-ide sesatnya, bukannya melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan yaitu mengedukasi ummat tentang bahaya system dan ide-ide barat yang kufur. Gerakan-gerakan Islam yang berbasis post-Islamisme pun dinilai telah mengalami disorientasi dalam pergerakannya. Orientasi yang mereka pegang teguh bukan lagi tujuan dibentuknya gerakan-gerakan tersebut melainkan suara dan kekuasaan. Perubahan orientasi ini jelas akan menimbulkan dampak destruktif terhadap partai itu sendiri, karena massa yang mendukungnya bukanlah massa yang berorientasi ideologis, melainkan hanya berorientasi pada manfaat dan kepentingan. Selain itu, keterbukaan atas keanggotaan yang dilakukan ini memperbesar peluang terjadinya penyusupan oleh intel atau pihak-pihak yang ingin melakukan pembusukan dan memberikan citra buruk pada Islam dan wacana Islam politik.

Dampak Merusak Pragmatisme

Sifat pragmatis sebagaimana sudah dijelaskan di atas merupakan suatu sifat yang tidak bisa lepas dari gerakan-gerakan post-Islamis. Mungkin memang benar bahwa semakin terbukanya gerakan ini terhadap ide barat akan mempermudah jalan menuju kekuasaan. Namun di sisi lain, keputusan seperti ini pastilah akan menyebabkan terjadinya mudharat bagi eksistensi dan pergerakan mereka. Sejarah telah memberikan “nasihat” yang sangat berharga bagi siapapun yang ingin memperjuangkan prinsipnya, bahwa pragmatisme dan ideologi adalah dua hal yang saling menghancurkan.

Alasan diambilnya pragmatisme sebagai jalan bagi gerakan-gerakan ini adalah adanya sikap pasrah terhadap keadaan, menganggap realitas adalah dalil, sehingga dengan berpijak pada realitas tersebut mereka menetapkan langkah-langkah dalam pergerakannya. Kenyataan seperti ini tampak pada pernyataan “demokrasi memang tidak berasal dari Islam, tapi kan kita hidup di Negara demokrasi”, seolah-olah demokrasi adalah suatu fakta yang tidak bisa diubah. Seharusnya kalaupun mereka ingin menjadikan demokrasi sebagai wasilah dakwah, maka sikap penolakan terhadap demokrasi itu tetap harus ditunjukkan secara terang-terangan sebagaimana dahulu Rasulullah berdakwah di Makkah, meskipun konsekuensinya adalah beliau dan para sahabatnya harus menghadapi permusuhan dan berbagai makar serta boikot dari kaum Musyrik Quraisy. Selain itu yang menonjol dari sikap pragmatis adalah asas manfaat. Kalau asas manfaat ini yang menjadi dasar menentukan sikap, bisa dipastikan kaidah syara’ tidak lagi diperhatikan. Maka wajar saja kalau Erdogan misalnya, mendukung agresi militer AS ke Iraq yang dengan itu Turki dan pemerintahannya tidak harus menghadapi pertentangan dengan AS yang saat ini menjadi adi daya tunggal, bahkan mendapat dukungan untuk masuk menjadi anggota Uni Eropa. Padahal Iraq adalah negeri kaum Muslim, negeri saudara-saudaranya, di mana agresi militer terbukti memakan banyak korban sipil. Sikap pragmatisme seperti ini sangat berbahaya apabila terus dibiarkan menjangkiti gerakan-gerakan Islam.

Akibat buruk yang dapat ditimbulkan sikap pragmatisme dalam mengejar tujuan politik yang bersifat ideologis adalah: Pertama, bagi partai Islam yang mengamalkannya. Partai itu akan terancam oleh bahaya ideologi (al-khathr al-mabda’i). Maknanya, ideologi partai, baik fikrah (pemikiran) maupun tharîqah (metode)-nya, akan mengalami erosi dan pendangkalan, bahkan dapat mengalami degradasi atau kehancuran. Kedua: bagi masyarakat pada umumnya. Ini karena pragmatisme politik adalah edukasi yang buruk kepada masyarakat. Yang lebih buruk lagi, pragmatisme politik partai-partai Islam bisa menimbulkan citra (image) buruk pada Islam itu sendiri dan pada partai Islam hakiki yang benar-benar memperjuangkan Islam. Ketiga, bagi konstituen partai Islam itu. Bahaya ini muncul karena konstituen partai Islam umumnya adalah orang-orang yang ikhlas, lugu dan patuh kepada pimpinan partai (qiyâdah). Dengan menempuh pragmatisme politik, berarti partai Islam itu telah menipu konstituennya. Konstituen mengira partainya adalah partai Islam sejati, padahal sejatinya adalah partai yang menyimpang dari Islam, yang telah terjerumus ke dalam langkah-langkah pragmatis tanpa mempedulikan halal-haram. Akibat-akibat buruk seperti ini disikapi dengan sikap yang abai, sehingga pragmatisme terus saja menjadi mainstream pergerakan dari kalangan post-Islamis.

Kesimpulan

Munculnya gagasan untuk berkompromi dengan demokrasi di kalangan aktivis-aktivis Islam pada akhirnya menimbulkan paradigma baru dalam wacana Islamisme, yaitu post- Islamisme yang bersifat progresif dan moderat. Dipilihnya system demokrasi daripada wilayatul faqih setelah terjadinya peristiwa “Revolusi Islam” di Iran menjadi awal munculnya gerakan- gerakan post-Islamis di dunia Islam. Post-Islamisme juga diadopsi oleh Ikhwanul Muslimin di Mesir, dengan tokoh-tokohnya yaitu Abdul Mun’im Abul Futuh, Issam Al-Erian, Mohammad Habib, Ibrahim Al-Zafarani, dan Abul A’la El-Mady. Mereka terkenal sebagai tokoh-tokoh Ikhwan dengan pikiran-pikiran dan move-move progresif.

Tapi seiring keberhasilan mereka dalam mendulang suara di berbagai Negara, wacana Islamisme yang menjadi “hidden agenda” mereka seolah lenyap, tidak lagi dijadikan fokus pergerakan. Mereka seolah nyaman dengan posisi strategis di pemerintahan, dan terus bersikap lunak kepada barat tanpa melakukan pendidikan kepada kader-kadernya serta konstituen dan masyarakat umum terhadap pentingnya kembali pada Islam dan meninggalkan ide-ide kufur barat yang menjerumuskan. Terbukti muncul kader-kader di partai-partai post-Islamis yang justru menolak ide Negara Islam, seperti Fahri Hamzah misalnya, salah seorang tokoh penting di PKS. Selain itu semakin terbukanya partai-partai tersebut dalam hal keanggotaan dan pemikiran, semakin menguatkan dugaan terjadinya pragmatisme di tubuh mereka, yang mana pragmatism adalah suatu sikap yang akan menimbulkan bahaya bagi gerakan-gerakan tersebut serta berbahaya bagi Islam dan kaum Muslimin.

Kondomisasi, Solusi Rusak a la Kaum Sekuler

Mulai tanggal 1 Desember yang lalu, Kementerian Kesehatan melalui KPAN menyelenggarakan sebuah acara kontroversial bertajuk “Pekan Kondom Nasional 2013”. Acara yang digelar dalam rangka menyambut hari AIDS Internasional ini melakukan aksi bagi-bagi kondom gratis kepada khalayak. KPAN mengklaim langkah ini merupakan salah satu upaya untuk menekan angka pengidap virus HIV di Indonesia. Tak pelak langkah ini menjadi bahan perbincangan di masyarakat dan begitu terekspos di media-media baik cetak maupun elektronik. Kontroversi yang muncul adalah seputar aksi bagi-bagi kondom yang dilakukan seara randomly, bahkan ada juga laporan yang mengatakan bahwa di Universitas Gajah Mada (UGM), kondom dibagi-bagikan secara gratis kepada para mahasiswa dengan diiringi pesan, “silakan dicoba sama pacarnya,..”. Hal seperti ini tentu memprihatinkan bagi kita kaum Muslimin, karena langkah seperti ini adalah langkah yang tidak solutif dan justru berdampak merusak moral generasi muda kita.

Kondomisasi, Solusi Yang Tidak Solutif

Penyebab utama AIDS sebagaimana dilansir oleh berbagai media (salah satunya rimanews.com), adalah maraknya perilaku seks bebas yang dalam bahasa seksologi biasanya disebut dengan perilaku seks berresiko. Masalah seperti ini, tentu merupakan masalah moral dan budaya. Seharusnya pemerintah memberikan edukasi serta membuat regulasi-regulasi yang menutup jalan-jalan yang dapat mengantarkan masyarakat kepada perilaku seks berresiko (baca: zina). Namun yang terjadi selama ini, justru pemerintah memfasilitasi perzinaan dengan menyediakan lokalisasi, ikut mempromosikan budaya pacaran, serta memberi batasan dan syarat yang terkadang memberatkan bagi masyarakat untuk dapat menikah. Hal-hal seperti ini secara tidak langsung memberikan sumbangsih terhadap maraknya seks bebas di kalangan remaja bahkan orang-orang tua. Ditambah lagi adanya acara-acara semacam Pekan Kondom Nasional ini yang seolah menjadi legalisasi atas seks pra nikah.

Pemerintah sebenarnya secara sadar tidak menganggap kondomisasi sebagai satu-satunya solusi sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas, namun menurut mereka kondomisasi adalah satu dari sekian banyak solusi yang dapat dilakukan untuk menanggulangi penyebaran virus HIV-AIDS. Padahal, sudah sering disebutkan oleh ahli-ahli penyakit seksual, pori-pori kondom memiliki ukuran yang jauh lebih besar ketimbang ukuran virus HIV tersebut. Paradigma seperti ini adalah paradigma yang pada akhirnya hanya akan melahirkan solusi-solusi parsial atas setiap masalah. Sikap yang seharusnya ditunjukkan oleh pemerintah adalah melakukan upaya-upaya preventif untuk mencegah terjadinya seks bebas, seperti dengan mensosialisasikan bahaya pacaran, mempermudah dan mempermurah biaya serta administrasi pernikahan, menutup lokalisasi-lokalisasi, bahkan pemerintah juga harus membuat regulasi-regulasi yang menjauhkan masyarakat dari hal-hal yang mengarah kepada terjadinya zina. Dengan begitu, insya Allah berbagai mudharat yang ditimbulkan oleh perzinaan, termasuk menyebarnya penyakit HIV-AIDS ini akan dapat ditanggulangi secara maksimal.

Islam, Solusi Hakiki

Allah SWT telah menurunkan seperangkat aturan yang dengn aturan tersebut Dia ingin memperbaiki kehidupan seluruh makhluknya.  Aturan-aturan tersebut telah termaktub secara lengkap dalam Al Qur’an, Termasuk di dalamnya aturan tentang mu’amalah (pergaulan) antara laki-laki dan perempuan. Islam telah memberi batasan bagi laki-laki dan perempuan  dalam melakukan interaksi. Batasan-batasan tersebut dapat kita lihat dari adanya larangan berkhalwat, larangan menyentuh lawan jenis yang bukan muhrim, perintah untuk menundukkan pandangan, serta perintah untuk menjauhi zina. Dengan ditaatinya aturan ini, maka insya Allah masalah perzinaan tidak akan separah sebagaimana yang terjadi pada masyarakat sekarang ini. Bahkan masa kekuasaan ummat Islam adalah masa di mana kemuliaan dan kehormatan kaum wanita begitu terjaga. Selain itu, Islam juga memiliki solusi bagi seluruh permasalahan keummatan yang saat ini melanda manusia. Namun, perlu diketahui bahwa aturan-aturan Islam tersebut harus diterapkan secara menyeluruh dengan negara sebagai perangkat politisnya. Itulah mengapa, kita butuh negara yang mampu menjadikan Islam sebagai asas dan menerapkan syari’at  Islam secara total, yaitu Negara Islam atau Daulah Islamiyyah atau Daulah Khilafah.  Dan tugas kitalah sebagai bagian dari kaum Muslimin untuk memperjuangkan berdirinya entitas Negara ini setelah dulu kaum Kuffaar dengan konspirasi liciknya telah meruntuhkan daulah Khilafah pada tahun 1924. Semoga Allah memudahkan langkah kita semua untuk bisa menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah. Aamin.

Lebih Baik Menyalakan Lilin Daripada Mengutuk Kegelapan

Oleh: Fuad Al Hazimi

Majelis Syariah JAT

TIDAK sedikit dari kita yang tersibukkan dengan mengamati pekerjaan orang lain, bukan untuk mengambil ibroh atau membantu menyelesaikan pekerjaannya tetapi justru untuk menunggu kapan orang itu terpeleset dalam kekeliruan atau melakukan kesalahan sehingga ia bisa segera mengkritik dengan kritikan yang tidak jarang melebihi batas yang proporsional.

Sungguh alangkah baiknya jika kita merenungi kata-kata bijak ini yang sejujurnya saya tidak tahu dari mana asalnya dan siapa yang pertama kali mengucapkannya :

“Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan”

“It’s Better to light a candle than curse the darkness”

Atau dalam bahasa Arabnya :

الأفضل أن تضيء شمعة من أن يلعن الظلام

Mengutuk kegelapan tidak akan menjadikan gelap sirna tetapi justru menambah pengapnya suasana hati. Mengecam pekerjaan orang tanpa memberinya solusi juga tidak jarang hanya akan merenggangkan persaudaraan.

Karena itu sungguh sebuah pelajaran yang sangat berharga yang diajarkan oleh Amirul Mukminin Umar Bin Abdul Aziz yang menasehati putranya :

سأحيي في كل يوم سنة وأميت بدعة

“Setiap hari aku akan menghidupkan satu sunnah dan mematikan satu bid’ah”

Dan hasilnya sebagaimana diriwayatkan oleh banyak ulama, Amirul Mukminin Umar Bin Abdul Aziz berhasil menghapuskan bid’ah-bid’ah yang biasa dilakukan umat Islam di bawah kekhalifahannya hanya dalam waktu dua setengah tahun …!!!!

Allah Azza Wa Jalla Berfirman :

قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَى شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَى سَبِيلًا

“Katakanlah : “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing”. Maka Rabb mu Yang lebih Mengetahui siapa yang lebih benar jalan-Nya”. (QS Al Isra’ 84)

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan katakanlah : “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS At Taubah 105)

هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

“Dan Dia (Allah) lebih Mengetahui (tentang keadaan) mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu. Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling Mengetahui tentang orang yang bertakwa”. (QS An Najm 32)

Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :

طُوبَى لِمَنْ شَغَلَهُ عَيْبُهُ عَنْ عُيُوبِ النَّاسِ

“Beruntunglah orang yang disibukkan dengan mengintrospeksi aib dirinya sehingga tidak sempat mencari-cari aib saudaranya” (HR. Bazzar dengan sanad Hasan – Subulus Salam 7/197)

اللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُكَ العَفْوَ وَالعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُكَ العَفْوَ وَالعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي، وَآمِنْ رَوْعَاتِي، اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بَيْنَ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِي، وَعَنْ يَمِينِي، وَعَنْ شِمَالِي، وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي

“Ya Allah..! Sesungguhnya aku memohon ampunan dan terbebas dari masalah di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon ampunan dan terbebas dari masalah dalam urusan agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aibku) dan tenangkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah! Jagalah aku dari arah muka, belakang, kanan, kiri dan dari atasku, dan aku berlindung dengan kebesaranMu, agar aku tidak dihancurkan dari bawahku (dalam kondisi lengah)”

(HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad dan dishahihkan Al Albani)

Wallohu a’lam

Dekonstruksi Islam, dan Pola Pikir Dikotomis

Oleh: Jaisy El Qahhar

 

Dekonstruksi Islam  adalah upaya menghancurkan bangunan Islam yang sudah dibangun oleh Rasulullaah, para sahabat, dan para ulama untuk kemudian diganti dengan bangunan baru yang lebih kontekstual dan sesuai perkembangan zaman. Menurut pengusungnya, gagasan ini merupakan jawaban atas stagnansi pemikiran ummat Islam yang disebabkan oleh adanya keterkekangan dalam memaknai teks-teks agama. Gagasan ini pada akhirnya menjadi alasan bagi munculnya gerakan progresif di kalangan ummat Islam untuk menghilangkan -apa yang mereka sebut dengan- “keterkekangan berfikir” tersebut dengan melakukan dekonsruksi terhadap metodologi keilmuan Islam. Adapun yang dimaksud dengan metodologi tafsir klasik -yang menurut kaum liberal merupakan penyebab keterkekangan atas kebebasan berfikir- adalah metodologi tafsir yang fundamen-fundamennya diletakkan oleh para ulama dari kalangan salafush shalih, seperti Imam madzhab yang empat dan lain-lain. Metodologi tafsir klasik inilah yang ingin “dilawan” oleh mereka, meskipun juga tak jarang mereka mengutip pendapat-pendapat para salaf ketika pendapat tersebut dianggap sesuai dengan jalan fikiran mereka.

Salah satu karakteristik yang menonjol dari gerakan dekonstruksi Islam ini adalah pola pikir yang dikotomis, dan cenderung barat sentris. Jadi dalam pandangan mereka, Islam itu tidak harus berwajah satu, melainkan banyak. Maka terciptalah sebutan-sebutan -yang tidak jarang juga justru menjadi stigma- seperti Islam moderat, Islam Fundamentalis, Islam Radikal, dan sebagainya. Memang harus diakui, ada sebagian kalangan yang memahami nash-nash syari’ah secara menyimpang. Namun yang jadi permasalahan dari usaha dekonstruksi Islam ini adalah tidak adanya parameter pasti yang dapat dijadikan patokan untuk menilai apakah suatu pemahaman atas nash tersebut adalah benar atau salah. Hal seperti ini tentunya dipengaruhi oleh faham pluralisme dan relativisme yang juga selalu mereka usung. Pola pikir seperti ini jugalah yang berperan besar atas tersebarnya stigma-stigma peyoratif yang disematkan kepada aktivis-aktivis Islam yang menentang ide-ide mereka. Dikotomi-dikotomi yang sejatinya tidak pernah dikenal dalam khazanah keilmuan Islam tersebut kemudian disertai dengan judgement-judgement yang juga tidak didukung oleh basis argumen syar’i, melainkan dengan indikator-indikator “kebenaran” a la Barat seperti HAM, demokrasi, liberalisme, dan sebagainya.

Dalam Islam memang dikenal perbedaan-perbedaan yang terjadi pada ranah fiqih, yaitu ranah yang mengurusi masalah detil suatu syari’at. Misalnya, perbedaan dalam detil shalat, puasa, jihad, dan lain-lain. Perbedaan ini tentu merupakan khilafiyah yang antara satu sama lain wajib saling menghormati, sebagaimana para Imam kaum Muslimin telah mencontohkan. Namun, tidak semua perbedaan dalam Islam dapat ditolerir, sebagaimana perbedaan dalam perkara fiqih tadi, yang tentunya setiap pendapat harus memiliki dasar dalil yang shahih. Itulah sebabnya, ada golongan-golongan yang disepakati sebagai golongan yang sesat bahkan murtad, karena mereka menyelisihi nash-nash yang muqawwimat. Syi’ah, Qadariyah, Jabbariyah, Mu’tazilah, adalah contoh kelompok-kelompok yang disepakati kesesatannya, karena menyelisihi nash-nash tentang perkara aqidah. Sedangkan para “dekonstruktor Islam” tersebut, mengelompokkan ummat Islam ke dalam kelompok-kelompok tanpa dasar syar’i. Yang pro dengan ide-ide barat dan “modernisasi” disebut moderat (biasanya juga disertai dengan pujian-pujian terhadap kelompok ini), yang berusaha berIslam secara kaaffah disebut fundamentalis, yang menjadikan jihad sebagai jalan perjuangan disebut militan, ekstremis, bahkan teroris. Namun ini semua seharusnya tidak perlu dianggap oleh kaum Muslim, karena cukuplah dalil-dalil syar’i menjadi parameter dalam menilai segala sesuatu, termasuk karakteristik suatu kelompok/golongan. So, dekonstruksi Islam sejatinya hanyalah gagasan yang bukannya memberi perbaikan pada keadaan ummat Islam, justru ia menyebarkan kekeliruan dalam memahami dinamika keummatan. Allaahu ta’aala a’lam.

Salah Kaprah Nasionalisme

Oleh: Jaisy El Qahhar

Ini tanggal 29 Oktober. Itu berarti satu hari telah lewat dari salah satu tanggal yang sangat penting dalam sejarah perjalanan republik Indonesia. Benar. Kemarin, Tanggal 28 Oktober adalah hari dimana setiap tahunnya diperingati sebagai hari “Sumpah Pemuda”, hari diikrarkannya 3 kalimat sumpah oleh tokoh-tokoh pemuda Nasional. Peristiwa ini lantas menjadi katalisator bagi bangkitnya rasa nasionalisme di kalangan pemuda Indonesia. Hingga sekarang, nasionalisme masih dianggap sebagai perekat utama bagi persatuan dan kesatuan bangsa. Bahkan, tidak segan-segan kaum nasionalis melabeli orang-orang yang menentang ide nasionalisme ini sebagai musuh bangsa. Lantas bagaimana sejatinya hakikat dari faham nasionalisme ini? dan bagaimana pandangan Islam terhadap faham ini? Mari kita kupas di sini.

Nasionalisme: Tinjauan Terminologis dan Historis

Tidak ada yang tau pasti kapan faham ini mulai ada. Banyak yang beranggapan bahwa faham ini muncul karena adanya kekhasan etnis yang barangkali sama tuanya dengan sejarah. Sejak zaman kuno, kita menyaksikan manusia telah mencoba mengelompokkan dirinya dalam suatu hubungan sosial yang dibatasi oleh kesamaan budaya, bahasa, etnis maupun agama atau kepercayaan. Seperti komunitas awal Saxon, Angle dan Norman yang diyakini sebagai nenek moyang bangsa Inggris; Kerajaan Yamato (abad 4-7 M) dengan pemujaan dewi matahari Amaterasu sebagai asal muasal bangsa Jepang, dan sejarah Piasts (10-12 M) yang menjadi komponen munculnya Polandia sebagai sebuah bangsa. [1] Pada abad ke 19 ide nasionalisme baru diargumentasikan secara ilmiah. Adalah Johann Gottlieb Fichte (seorang filsuf Jerman) yang mengenalkan ide nasionalisme -sebagai doktrin ikatan kebangsaan- dalam karyanya “Addresses to The German Nation”.2 Secara etimologis, sebagaimana yang dijelaskan oleh Roger Griffin, nasionalisme berasal dari kata nation (bangsa) yang berasal dari bahasa latin natio. Kemudian istilah nasionalisme merujuk pada makna daya hidup “kekuasaan rakyat” baru yang di Prancis sanggup menumbangkan sebuah kerajaan. [2]

Sedangkan definisi nasionalisme sampai saat ini sudah disebutkan oleh berbagai ahli, yang intinya adalah sebuah faham yang berusaha menyatukan seluruh penduduk dalam satu negara bangsa (nation-state) tanpa membedakan ras, suku, golongan, dan agama, serta menjadikan pengabdian tertinggi manusia/warga negara adalah bagi bangsa dan negara. Maka dalam prakteknya, nasionalisme ini menjadi sesuatu yang sangat sakral, bahkan menjadi sesuatu yang paling sakral bagi penganutnya. Kita bisa lihat dari peraturan yang ada di negara ini, di mana negara ini adalah negara yang menganut faham nasionalisme. Lambang-lambang kenegaraan seperti garuda pancasila, bendera merah putih, UUD, dan sebagainya adalah lebih mulia dibanding apapun bahkan kitab suci. Dalam peraturan perundang-undangan Indonesia, melakukan penodaan terhadap lambang-lambang negara akan dikenai sanksi pidana. Namun, ketika terjadi penodaan terhadap agama, yang terjadi adalah pembiaran bahkan pembelaan. Allaahul musta’aan. Lantas bagaimana dengan kalimat yang selalu mereka ucapkan dalam doa iftitah yaitu “Innash shalaati wa nusuki wa mahyaya wa mamaati lillaahirabbil ‘aalamiin”, sedang faham yang mereka yakini benar adalah faham yang mengkultuskan bangsa?

Cinta Bangsa ≠ Nasionalisme

Nasionalisme = cinta tanah air. Ini adalah pandangan yang sangat jauh dari hakikat yang benar tentang nasionalisme. Cinta tanah air, adalah fitrah yang semua orang apapun faham dan isme yang dianut. Maka kalau ada yang mengatakan tidak nasionalis berarti tidak cinta bangsa dan tanah air bahkan dianggap memusuhi bangsa dan tanah air, ini justru menunjukkan ketidakfahaman orang tersebut terhadap hakikat nasionalisme sebagai suatu faham. Dan sayangnya, pandangan salah kaprah seperti ini merupakan hal yang lumrah di masyarakat kita. Dengan mindset seperti ini, akibatnya jarang terjadi diskusi yang fair antara pihak yang pro nasionalisme dengan pihak yang kontra. Karena Pihak pro nasionalisme biasanya langsung melakukan labelisasi terhadap penentang nasionalisme tanpa memperhatikan alasan dari pihak anti nasionalisme.

Ingatlah ketika kaum Muslimin Makkah diwajibkan berhijrah oleh Allah ke Madinah dengan meninggalkan segalanya di sana. Rumah, Harta, Sanak Saudara, dan kampung halaman harus mereka relakan demi memenuhi perintah Allah. Sampai-sampai Bilal bin Rabah mengalami demam saking rindunya kepada tanah Makkah, begitupun Abu Bakar -radhiyallaahu ‘anhuma-. Apakah demamnya Bilal dan Abu Bakar karena rindu kampung halaman menunjukkan bahwa mereka adalah nasionalis sejati? Tentu bukan! Adalah sangat wajar bagi seseorang untuk merindukan kampung halaman, di mana mereka lahir di sana, besar di sana, dan berbagai macam kenangan  lainnya yang tentu sudah begitu menghujam di dalam hati mereka. Ini adalah fitrah yang tidak dipengaruhi isme-isme apapun termasuk nasionalisme.

Ada juga sebagian kalangan yang mengatakan bahwa Islam (Ruh ad-Din) dan nasionalisme (Ruh al-Wathaniyyah) tidak bertentangan, bahkan saling menguatkan satu sama lain. Alasannya adalah karena dalam Islam ada perintah berjihad membela tanah air dari serangan kaum kafir yang hendak melakukan invasi. Pertanyaannya, apakah perintah berjihad membela tanah kaum Muslimin dari invasi kaum kafir adalah dipengaruhi spirit nasionalisme? Bagaimana dengan perkataan Qotzman yang mana dia digolongkan sebagai ahli neraka (salah satunya) karena perkataan ini: “Demi Allah aku berperang bukan kerana agama tetapi hanya sekadar menjaga kehormatan kota Madinah supaya tidak dihancurkan oleh kaum Quraisy. Aku berperang hanyalah untuk membela kehormatan kaumku. Kalau tidak kerana itu, aku tidak akan berperang.”? Sungguh, perintah membela tanah dan kehormatan kaum Muslimin, bukan karena nasionalisme, tapi demi menjaga agama agar tidak dirusak oleh kaum kafir yang menjajah. Karena ketika kaum Kafir berkuasa atas kaum Muslim, yang terjadi adalah penindasan terhadap Islam sebagaimana terjadi saat ini. Semoga Allah menunjuki kita jalan yang benar. Insyaa Allaah. 

 muraja’ah:
[2] ibid